Nilai Intrinsik Saham dan Margin of Safety

1/8/2019, 17:20 WIB

Apakah itu Nilai Intrinsik atau Intrinsic Value ?, jika menyinggung tentang nilai intrinsik saham maka nilai intrinsik ada hubungannya dengan Margin of Safety. Artinya jika suatu saham tidak memiliki nilai intrinsik maka saham tersebut juga tidak memiliki yang namanya Margin of Safety.

Lalu, apakah semua saham memiliki nilai intrinsik ?, jawabannya tidak. Secara ringkas hal tersebut dikarenakan tidak semua saham [Baca : perusahaan atau emiten] memiliki pendapatan, laba hingga harga saham yang konsisten terus naik dalam jangka waktu yang sangat panjang, hanya segelintir saja saham – saham di Bursa Efek yang memiliki nilai intrinsik yang hasil hitungannya relevan dan bisa digunakan sebagai ukuran valuasi saham perusahaan.

Salah satu value investor sukses dunia yang mampu menggunakan keahliannya dalam menentukkan nilai intrinsik suatu saham adalah Warren Buffet, dimana WB memperoleh konsep Margin of Safety kaitannya dengan Intrinsic Value dari Benjamin Graham. Warren Buffet bisa sangat presisi dalam menentukan nilai intrinsik suatu saham hingga diperoleh Margin of Safety yang bisa digunakan sebagai acuan dalam menentukan keputusan kepemilikan suatu saham atau tidak. WB tidak terlalu peduli dengan tingkat PER dan PBV pada suatu saham perusahaan, asalkan nilai intrinsik saham tersebut tinggi yang artinya Margin of Safety juga besar maka WB lebih memilih untuk memiliki saham perusahaan tersebut. Warren Buffet lebih tertarik berinvestasi pada emiten atau perusahaan yang sangat bagus [Baca : ditunjukkan dengan nilai intrinsik yang sangat tinggi] dengan harga yang ideal [Baca : tidak berarti murah, namun juga tidak terlalu mahal] daripada berinvestasi pada perusahaan yang harga sahamnya murah namun biasa – biasa saja [Baca : tidak memiliki nilai intrinsik atau kalaupun ada namun presentasenya sangat kecil].

By the way, mari cari tahu lebih mendalam tentang apa itu nilai intrinsik dan apa itu MOS atau Margin of Safety, here we go !

Margin of Safety terkait investasi saham adalah selisih dari harga saham [Baca : harga perolehan / beli / akumulasi saham yang dilakukan atau harga saham saat ditentukan waktu itu juga] dengan nilai intrinsik saham tersebut.

So, let’ say saham X memiliki nilai intrinsik IDR 2,000. Jika Anda memperoleh / membeli / mengakumulasi saham X tersebut di harga IDR 1,250, maka MOS atau margin of safety yang Anda peroleh adalah sebesar IDR 750 atau bisa dikatakan Anda memperoleh saham X tersebut saat terdiskon sebesar 37,5% dari nilai intrinsik saham X tersebut. Keputusan investasi saham yang bagus atau ideal jika Anda mampu memperoleh suatu saham jauh dibawah nilai intrinsik saham tersebut.

So, apa yang dimaksud dengan nilai intrinsik dan bagaimana cara menghitung nilai intrinsik saham ?

Nilai intrinsik adalah nilai yang sesungguhnya dari suatu saham atau nilai murni dari suatu saham. Tentu saja itu artinya, nilai intrinsik berbeda dengan market value atau nilai pasar [Baca : nilai pasar dihasilkan dari mekanisme permintaan dan penawaran yang terjadi di market pada saat itu] dan berbeda dengan book value atau nilai buku [Baca : nilai buku murni hasil perhitungan dari ekuitas secara materil]. Hal tersebut berbeda dikarenakan nilai intrinsik telah memperhitungkan asset yang terlihat [Baca : ekuitas] dan asset yang tidak terlihat [Baca : Nama Besar Perusahaan, Brand Produk / Jasa, Keunggulan Kompetitif Bisnis, Kredibilitas Manajemen, Reputasi Manajemen, Benchmark Bidang Usaha dan Semacamnya]. Oleh karena itu, nilai intrinsik ini bersifat sangat subjektif dalam ukurannya mengingat antar investor satu dengan investor lainnya tentu memiliki hasil penilaian yang berbeda tipis ataupun besar pada pengukuran tingkat asset tidak terlihat, mengingat asset tidak terlihat ini tidak tercantum angka – angka atau nominalnya dalam laporan keuangan perusahaan. Namun, meski demikian tingkat presisi atau keakuratan dalam menentukan nilai intrinsik sangat tergantung pada tingkat pengalaman dari investor tersebut yang mana Warren Buffet tentu punya hasil penetuan nilai intrinsik yang lebih presisi jika dibandingkan investor lain yang belum atau kurang berpengalaman utamanya dalam menilai tingkat asset tidak terlihat suatu perusahaan.

[Catatan : Penulis harap penjelesan soal nilai intrinsik ini juga bisa mewakili pemahaman para Pembaca soal pengukuran “asset tidak terlihat” yang mana sering Penulis gunakan dalam menilai atau menentukan pilihan pada suatu saham perusahaan yang mana terkadang angka – angka atau nominal pada laporan keuangannya masih “merah – merah” namun pada akhirnya mampu mencatatkan kenaikan capital gain puluhan hingga ratusan persen dalam waktu ideal].

Okey, untuk tahu bagaimana cara menghitung nilai intrinsik saham maka sebagai contoh kita harus memilih satu saham saja di Bursa Efek Indonesia yang memiliki nilai intrinsik dan hasil hitungan nilai intrinsiknya relevan bisa digunakan sebagai ukuran valuasi saham perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan yang sahamnya akan kita hitung nilai intrinsiknya setidaknya harus memenuhi kriteria sebagai berikut :

  1. Termasuk dalam 2 sektor saham yang paling konservatif dan profitable yaitu Consumer Goods dan Finance (Bank) [Catatan : susunan portofolio saham WB yang terbukti konsisten menunjukkan peningkatan selama puluhan tahun ada pada saham sektor Consumer Goods dan Finance khususnya Perbankan],
  2. Tata kelola dan manajemen perusahaan yang bagus,
  3. Menunjukkan hasil kenaikan pertumbuhan pendapatan, laba bersih dan harga saham yang terbukti konsisten minimal dalam kurun waktu 10 tahun atau lebih,
  4. Memiliki nilai kualitatif yang sangat kuat atau bagus : Nama Besar Perusahaan, Brand Produk / Jasa, Keunggulan Kompetitif Bisnis, Kredibilitas Manajemen, Reputasi Manajemen, Benchmark Bidang Usaha dan Semacamnya

Finaly, kita menemukan saham ICBP atau saham PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. yang memenuhi kriteria di atas dan tentunya ideal digunakan sebagai contoh untuk menghitung nilai intrinsik saham sekaligus margin of safety. Let’s see !

Sebelum itu, Penulis ingin menekankan terlebih dahulu definisi nilai intrinsik menurut Warren Buffet ialah jumlah uang kas yang dapat ditarik dari perusahaan atau emiten selama perusahaan tersebut masih beroperasi [Baca : bisnis perusahaannya masih aktif]. Lalu, “uang kas” yang dimaksud ialah nominal atau angka ekuitas terakhir perusahaan [Baca : ekuitas terbaru saat Anda menarik data laporan keuangan tahunan terakhir] ditambah akumulasi laba bersih yang akan perusahaan atau emiten kumpulkan atau peroleh kedepannya selama perusahaan tersebut masih atau terus beroperasi.

Berikut adalah data laporan keuangan perusahaan ICBP full year atau tahun penuh 2018 [Catatan : Ingat, gunakan LK tahun penuh atau full year. Jadi, bukan menggunakan LK kuartalan].

  1. Jumlah saham ICBP adalah 11,67 milyar lembar saham.
  2. Nilai ekuitas ICBP adalah IDR 22,71 triliun, artinya setiap lembar saham ICBP mewakili ekuitas sebesar IDR 1.947 .
  3. Laba bersih per saham atau EPS ICBP di tahun 2018 tercatat sebesar IDR 392 .

Dengan mengasumsikan bahwa ICBP masih akan mampu beroperasi setidaknya selama 20 tahun kedepan dan tentu selama 20 tahun mendatang tersebut ICBP mampu mencetak Earnings per Share atau EPS sebesar IDR 392 setiap tahunnya maka akumulasi dari EPS tersebut selama 20 tahun adalah IDR 7.840 .

Berdasarkan rumus atau formula nilai intrinsik yang telah Penulis uraikan diatas maka hasil EPS ICBP selama 20 tahun yaitu IDR 7.840 ditambah dengan ekuitas ICBP sebesar IDR 1.947, maka diperoleh nominal atau angka IDR 9.787. So, nominal atau angka IDR 9.787 ini merupakan nilai intrinsik atau intrinsic value dari saham ICBP.

Sebagai catatan penting bahwa, dari hasil perhitungan nilai intrinsik tersebut Penulis mengasumsikan dengan sangat yakin ICBP masih akan mampu beroperasi selama hingga 20 tahun mendatang, meski bukan tidak mungkin perusahaan sekaliber ICBP masih memungkinkan akan mampu beroperasi hingga 25 tahun mendatang. But, Penulis menggunakan prinsip konservatif yang artinya lebih “aman” mengasumsikan usia operasional perusahaan sedikit lebih pendek dari yang sebenarnya mampu lebih dilalui perusahaan tersebut.

Tentu saja perhitungan intrinsic value tidak berhenti hanya sampai disini, pertanyaannya adalah apakah mungkin laba bersih ICBP tiap tahun terus menghasilkan laba bersih sebesar IDR 392 ? selama 20 tahun kedepan ?, tentu saja tidak. Oleh karena itu, kita gunakan konsep CAGR untuk menghitung tingkat pertumbuhan laba bersih tahunan ICBP sehingga bisa ditemukan hasil perhitungan akumulasi laba bersih ICBP selama 20 tahun secara lebih presisi, wajar dan relevan.

Konsep CAGR atau Compound Annual Growth Rate adalah konsep bisnis dan investasi yang mengubah pandangan pertumbuhan tahun demi tahun yang berubah – ubah dibuat lebih halus, sehingga volatilitas atau perubahan pertumbuhan yang terlalu berbeda – beda terabaikan [Catatan : jadi seakan – akan pertumbuhannya tidak ada gejolak atau perbedaan perubahan yang terlalu signifikan]. Meski konsep CAGR cukup efektif dalam menunjukkan hasil pertumbuhan tahunan dari sebuah bisnis dalam beberapa periode dengan “halus”, namun konsep CAGR ini tidak terlepas dari kelemahan yaitu hasil konsep CAGR bisa ditipu dengan pertumbuhan pesat hanya di tahun terakhir saja dan konsep CAGR tidak bisa melihat perubahan laju yang disertai oleh penurunan [Baca : penurunannya tersamarkan].

Berdasarkan perhitungan menggunakan konsep CAGR atau Compound Annual Growth Rate laba bersih ICBP menunjukkan peningkatan sebesar 16% tiap tahun [Catatan : menggunakan data laba bersih tahun 2018 dan tahun 2014 atau dalam rentang 5 tahun]. Okey, berdasarkan konsep CAGR itu berarti EPS ICBP pada tahun 2018 akan menjadi IDR 454 pada tahun 2019 akan menjadi IDR 527 dan demikian seterusnya hingga di tahun 2038 [Catatan : selama kurun waktu 20 tahun] ICBP akan mencetak EPS IDR 7.607 . So, jumlah akumulasi EPS selama 20 tahun atau antara tahun 2019 – 2038 mencapai IDR 52.357 [Catatan : EPS tahun 2018 yang sebesar IDR 392 tidak dihitung atau tidak ikut dijumlahkan, mengingat EPS tersebut sudah include dalam modal atau ekuitas emiten di tahun yang sama. Jadi yang dihitung atau di akumulasi hanya laba bersih yang perusahaan akan peroleh kedepannya yaitu tahun 2019 – 2038].

Tentu saja perhitungan intrinsic value belum juga berhenti hanya sampai disini, mengingat dengan berjalannya waktu maka tentu nilai uang [Catatan : Time Value of Money dimana nilai waktu uang adalah suatu konsep yang menyatakan bahwa nilai uang sekarang akan lebih berharga daripada nilai uang dimasa mendatang atau suatu konsep yang mengacu pada perbedaan nilai uang yang disebabkan karena perbedaaan waktu yang mana aspek – aspek pemicunya adalah perkembangan ekonomi dalam bentuk seperti inflasi dan aspek ekonomi semacamnya] saat ini tentu berbeda dengan nilai uang 20 tahun mendatang [Catatan : jaman Penulis masih SD dulu, uang IDR 1,000 sudah bisa buat beli soto dekat sekolah. Sekarang buat beli kerupuk udang saja masih kurang IDR 500-an perak].

By the way, Penulis akan kembali melanjutkan ke perhitungan nilai intrinsik ICBP dengan menyertakan pertimbangan soal time value of money atau dalam hal ini perkembangan ekonomi selama kurun waktu yang panjang. Here we go !

Kembali sejenak ke cerita Penulis 20 tahun silam dimana jaman Penulis masih SD dulu, uang IDR 1,000 sudah bisa buat beli soto dekat sekolah. Sekarang buat beli kerupuk udang saja masih kurang IDR 500-an perak. Lalu, bagaimana dengan 20 tahun mendatang ? apakah Penulis masih bisa membeli kerupuk udang dengan membawa uang sebesar IDR 1,000 ? jawabannya tentu saja tidak. Hal tersebut dikarenakan nilai waktu dari uang yang mana efek dari pertumbuhan ekonomi dalam bentuk inflasi atau semacamnya. Dengan demikian, akumulasi laba bersih ICBP yang sebesar IDR 52.357 di tahun 2038 tentu akan berbeda nilainya pada saat ini, yang mana itu artinya nilai atau nominalnya harus disesuaikan.

Dalam menyesuaikan angka atau nominal laba bersih ICBP sebesar IDR 52.357 di tahun 2038 maka bisa dengan cara membagi angka tersebut dengan annual interest rate yang mana nilai bunga tahunan tersebut bisa di ambil dari intrumen investasi atau keuangan pemerintah seperti suku bunga acuan BI, SUN, ORI dan semacamnya [Catatan : menurut Warren Buffet bisa menggunakan Interest rate of gov. obligation sebagai acuan pembagian bunga tahuan].

Penulis sendiri akan menggunakan suku bunga acuan BI yang mana bisa dilihat di situs Bank Indonesia atau di situs Tradingeconomics .

Let’s say Penulis akan menggunakan suku bunga 5,75% per tahun. Maka laba bersih ICBP atau uang sebesar IDR 52.357 di tahun 2038 setara dengan IDR 49.510 di tahun 2037 dan setara dengan IDR 46.818 di tahun 2036 dan demikian seterusnya hingga menjadi IDR 17.114 di tahun 2018 ditambah ekuitas terakhir ICBP yaitu sebesar IDR 1.947 sehingga totalnya menjadi IDR 19.062 . Kesimpulannya, nilai intrinsik saham ICBP saat ini kurang lebih sebesar IDR 19.062, yang mana jauh lebih tinggi ketimbang harga saham ICBP saat review ini ditulis yaitu sebesar IDR 10.350. Artinya, berdasarkan konsep Margin Of Safety dan Intrinsic Value maka saham ICBP masih MURAH atau UnderValue ! karena MOS UNVR positif 84% dengan formula perhitungan ((Nilai Intrinsik / Harga Saham Saat Ini) – 1) x 100%.

Nominal atau angka IDR 19.062 ini berdasarkan asumsi jika ICBP masih mampu beroperasi 20 tahun mendatang dan stabil menghasilkan laba secara terus menerus. Artinya, angka dari nilai intrinsik tersebut bisa berubah tergantung asumsi berapa lama perusahaan dimungkinkan dapat beroperasi, dimana asumsi tersebut atas dasar pengalaman tiap investor terhadap penilaian tingkat going concern suatu perusahaan [Catatan : Warren Buffet biasa menggunakan asumsi 10 tahun kedepan untuk menghitung akumulasi laba perusahaan yang dapat dikumpulkan suatu perusahaan. Tentu saja asumsi 10 tahun tersebut lebih kepada tingkat konservatif].

Finaly, dari hasil kesimpulan perhitungan konsep MOS atau margin of safety dan nilai intrinsik yang menyatakan bahwa saham ICBP masih MURAH atau UnderValue di kisaran harga IDR 10.350 atau setara margin of safety 84% ! saat review ini ditulis, apakah Anda segera akan membeli sahamnya ?, mengingat saham ICBP masih berada dibawah nilai intrinsiknya, tentukan pilihan Anda !


So, dari artikel ini setidaknya Anda sekarang sudah tahu semua tentang nilai intrinsik saham sekaligus margin of safety dari saham. Good Luck !


 

KUMPULAN HASIL REVIEW (terbatas) SAHAM – SAHAM INDONESIA BERDASARKAN KAIDAH VALUE INVESTING Klik —> (disini)

Jika Anda cocok dengan Value Investing ala andrianoktianto.com dan ingin mendapatkan hasil analisis andrianoktianto.com lebih lengkap untuk saham – saham berpotensi, silahkan JOIN dengan andrianoktianto.com. Klik REGISTRASI —> (disini)

Anda akan mendapatkan berbagai fasilitas berikut, Klik —> (disini)

Apakah Anda cocok dengan Value Investing andrianoktianto.com ?. Klik —> (disini)

Apa itu Value Investing andrianoktianto.com ?. Klik —> (disini)

Profil dari Penulis ?. Klik —> (disini)

Saham Value Investing Indonesia – andrianoktianto.com

Workshop Value Investing – Surabaya, 22/29 Februari 2020

Workshop Value Investing – Surabaya, 22/29 Februari 2020   Dear investor dari berbagai profesi, andrianoktianto.com ...

Workshop Value Investing – Jakarta, Okt/Nov 2019

Dear investor dari berbagai profesi, andrianoktianto.com menyelenggarakan workshop investasi saham dengan metode Value Investing, yaitu ...

Unilever Indonesia : Intrinsic Value and Margin of safety :: Saham UNVR Investasi Jangka Panjang ?

Peluang akumulasi saham UNVR ? : Apakah saat ini merupakan peluang menarik untuk kembali akumulasi ...