Right Issue : Hal-hal Penting Tentang (HMETD) Bagi Investor Saham

28/7/2019, 07:52 WIB

Right Issue : Definisi, Tujuan, Mekanisme, Penentuan harga teoritis, Efek bagi Investor Saham, Alasan emiten melakukan HMETD ?

Right Issue atau HMETD (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu) atau penerbitan saham baru oleh perusahaan adalah aksi korporasi perusahaan berupa peningkatan modal disetor suatu emiten dimana perusahaan menawarkan hak atau right kepada pemegang saham yang ada untuk mendapatkan saham baru dengan menyetor modal dalam rasio tertentu. Namun, Jika pemegang saham tersebut tidak mau mengambil hak-nya (Baca : right), maka investor tersebut dapat menjual right-nya kepada investor lain. Transaksi JUAL/BELI hak atau right di pasar modal saham dikenal sebagai perdagangan right.

Tujuan dari Right Issue atau HMETD (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu) atau penerbitan saham baru oleh perusahaan ini adalah untuk peningkatan modal atau buat ngumpulin dana. Nah, apakah Right Issue ini positif atau negatif bagi investor ?, maka tergantung untuk apa dana yang telah dikumpulkan tersebut akan digunakan. Jika dana hasil Right Issue tersebut digunakan untuk tujuan yang baik seperti ekspansi, akuisisi dan semacamnya oleh perusahaan, maka hasilnya akan positif yang tentunya bisa dinikmati juga oleh investor.

Namun, ada juga investor yang kurang suka dengan right issue karena dapat menyebabkan saham yang dimiliki menjadi terdilusi, hal tersebut menyebabkan harga saham di MARKET menjadi turun meski terkadang hanya dalam jangka pendek. Pertanyaannya, sebenarnya aksi korporasi right issue ini menarik atau tidak bagi investor saham ?.

Silahkan Anda baca artikel ini sampai habis untuk menemukan jawabannya. Let’s chek this out !

Contoh right issue secara sederhana seperti ini, misal Anda dan teman – teman Anda mendirikan sebuah perusahaan rintisan teknologi KASIR di bidang penyedia jasa aplikasi keuangan UMKM yang terdiri dari 5 pemegang saham atau investor dengan total modal disetor Rp. 5,000,000,000,- sebagai berikut :

  • Kevin    : 15 lembar saham = 15% = Rp. 750.000.000,-
  • Andara : 10 lembar saham = 10% = Rp. 500.000.000,-
  • Seila     : 25 lembar saham = 25% = Rp. 1.250.000.000,-
  • Izao      : 25 lembar saham = 25% = Rp. 1.250.000.000,-
  • Reno    : 25 lembar saham = 25% = Rp. 1.250.000.000,-

Total nilai investasi sebesar Rp. 5.000.000.000 yang terbagi menjadi 100 lembar saham beredar.

Seiring berjalannya waktu, perusahaan rintisan teknologi KASIR berkembang pesat, sehingga membuat Anda dan teman – teman Anda harus melakukan ekspansi dengan menambah peralatan IT, bandwidth internet, data cloud security dan server baru. Namun, untuk merealisasikan ekspansi tersebut tentu butuh tambahan modal yang mana pilihannya bisa dari pinjaman atau tambahan modal baru. Berdasarkan keputusan RUPS yang diselenggarakan akhirnya jatuhlan pada pilihan untuk menambah modal baru karena tidak membutuhkan pengeluaran biaya “tambahan” seperti bayar bunga pinjaman.

So, katakanlah Anda dan teman – teman Anda butuh tambahan modal Rp. 2.500.000.000,- untuk ekspansi tersebut. Maka, setelah penambahan modal, modal perusahaan rintisan teknologi KASIR ini menjadi Rp. 5.000.000.000,- + Rp 2.500.000.000,- = Rp. 7.500.000.000,-. Artinya, rasio Right Issue nya adalah 5 : 2,5 atau menjadi 2 : 1 .

Sehingga proporsi (baru) kepemilikan saham perusahaan rintisan teknologi KASIR yang Anda dirikan bersama teman – teman Anda adalah sebagai berikut :

  • Kevin    : Rp. 2.500.000.000,- x 15% = Rp. 375.000.000,-
  • Andara : Rp. 2.500.000.000,- x 10% = Rp. 250.000.000,-
  • Seila     : Rp. 2.500.000.000,- x 25% = Rp. 625.000.000,-
  • Izao     : Rp. 2.500.000.000,- x 25% = Rp. 625.000.000,-
  • Reno    : Rp. 2.500.000.000,- x 25% = Rp. 625.000.000,-

Proporsi di atas sesuai dengan kepemilikan saham masing – masing investor yang biasa kita sebut right / hak atau HMETD (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu). Right atau Hak tersebut boleh digunakan oleh masing – masing pemegang saham untuk menyetor modal baru. Namun, jika tidak mau digunakan maka bisa dialihkan ke pemegang saham lainnya. Sebagai catatan, Jika penambahan modal dilakukan mengikuti skema proporsi dan sesuai dengan hak masing – masing investor, maka tidak ada perubahan struktur pemegang saham atau struktur kepemilikan saham.

Bagaimana jika Ada investor yang tidak mengambil hak-nya atau jika Anda tidak mengambil right-nya ? Apa efek yang akan terjadi pada investor ?

Misal, teman Anda atau salah satu pemegang saham yang bernama Reno pada saat itu tidak punya dana tunai sehingga tidak bisa menambah modal sebesar hak-nya atau right-nya yaitu Rp. 625.000.000,- dan pada saat itu juga kebetulan Izao berminat mengambil “jatah” Reno sesuai proporsi right atau hak yang dimiliki Reno. [Catatan : jika di bursa saham, HMETD atau right milik Reno bisa dijual ke MARKET dimana ada kode tambahan –R] Dengan demikian, modal baru yang disetor oleh Reno adalah Rp. 0,- dan yang disetor Izao adalah Rp. 625.000.000,- (hak-nya atau right-nya) + Rp. 625.000.000,- (pengalihan hak atau right dari Reno) = Rp. 1.250.000.000,- .

Jika hal tersebut terjadi, maka struktur atau proporsi pemegang saham atau investor menjadi berubah, sebagai berikut :

  • Nama                   :           Kevin            I            Andara            I            Seila            I           Izao            I            Reno            I
  • Modal Awal          : Rp. 750.000.000,- I Rp. 500.000.000,- I Rp. 1.250.000.000,- I Rp. 1.250.000.000,- I Rp. 1.250.000.000,- I
  • Modal Tambahan : Rp. 375.000.000,- I Rp. 250.000.000,- I Rp. 625.000.000,- I Rp. 1.250.000.000,- I Rp. 0,- I
  • Modal Akhir         : Rp. 1.125.000.000,- I Rp. 750.000.000,- I Rp. 1.875.000.000,- I Rp. 2.500.000.000,- I Rp. 1.250.000.000,- I
  • Presentase Kenaikan :   15%   I   10%   I   25%   I   33% (naik dari 25%)   I   17% (turun dari 25%)   I

Apa efek yang terjadi pada investor atau pemegang saham terhadap hal di atas ?

  • Hak suara dalam pengambilan keputusan di RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) Reno berkurang sedangkan Izao meningkat,
  • Proporsi perolehan dividen berubah dimana Izao akan mendapat porsi dividen terbesar dibandingkan investor yang lainnya,
  • Jika Izao bersekutu dengan Seila, maka mereka bisa mengontrol atau menjadi pemegang saham pengendali atas setiap keputusan perusahaan kedepannya, karena total kepemilikan Izao dan Seila jika digabungkan menjadi di atas 50% atau menjadi sebesar 58%.

Lalu dari studi kasus di atas maka apa hubungannya dengan efek dilusi bagi investor ?

Jawabannya, efek dilusi ini seperti yang di “rasakan” oleh Reno dimana proporsi kepemilikan atas keseluruhan saham di perusahaan rintisan teknologi KASIR menjadi berkurang, tidak akan berdampak krusial pada Reno kecuali jika Reno berniat menjadi pengontrol atau pemegang saham pengendali pada perusahaan tentunya hak suara Reno pada RUPS menjadi tidak efektif. But, selama investor tersebut atau dalam hal ini Reno tidak berniat menjadi pengontrol perusahaan atau pemegang saham pengendali perusahaan maka EFEK DILUSI tidak akan berdampak berarti atau krusial bagi dirinya atau investor tersebut.

So, dalam hal ini right issue adalah aksi korporasi yang efektif bagi pemegang saham atau investor yang berniat atau berminat menjadi atau masih ingin bertahan sebagai pengendali atau pengontrol perusahaan dari hasil hak suara dominan pada RUPS. Jika pemilik saham atau investor hanya mengharapkan capital gain, maka tidak perlu berpartisipasi dalam aksi korporasi seperti right issue ini.

Lalu, bagaimana dengan mekanisme right issue di pasar modal atau saham ?, Let’s see !

Yaitu, perusahaan menawarkan hak (HMETD) kepada investor untuk mendapatkan saham baru [tentu saja dengan menebus atau menyetor dana] dengan rasio tertentu. Namun, jika pemegang saham tersebut tidak mengambil hak (HMETD)-nya, maka investor tersebut dapat menjual hak (HMETD) tersebut kepada investor lain. Jadi, di pasar modal dikenal juga perdagangan right atau hak.

Okey, berikut contohnya, sebuah saham KSIR melakukan aksi korporasi right issue (HMETD) dengan jadwal sebagai berikut :
Cum date : 1 Juli 2019
Ex date     : 2 Juli 2019
Rasio right issue : 100 : 50 (lama : baru)
Harga pelaksanaan (exercise) : Rp 200

Artinya 100 lembar saham induk KSIR akan mendapatkan 50 HMETD dimana 1 HMETD berhak menebus saham baru KSIR dengan harga Rp 200.

Lalu, berapa harga teoritisnya ? [menghitung harga teoritis saham setelah Right Issue].
Maka untuk menghitung nilai teoritis harus diketahui berapa harga penutupan saham KSIR pada tanggal Cum Date (cum HMETD)-nya. Misal, harga penutupan di 1 Juli 2019 adalah Rp. 600, maka untuk menghitung harga teoritis, sebagai berikut :

Harga Teoritis = ((rasio saham lama x harga closing cum date) + (rasio saham HMETD x harga exercise)) / (rasio saham lama + rasio saham baru)
Harga Teoritis = (100 x 600) + (50 x 200) / (100 + 50) = Rp 466,67

Jadi, jangan kaget jika pada ex date (2 Juli 2019) harga dibuka di kisaran 470-an. Hal tersebut bukan berarti Anda rugi / loss karena beli di 1 Juli 2019 di harga 600. Tapi memang itu harga teoritisnya [harga teoritis yang lebih tinggi atau lebih rendah dari harga penutupan di Cum Date tidak punya dampak loss atau profit seperti penurunan atau kenaikan harga saham secara umum].

Anda akan mendapatkan right atau hak dengan kode KSIR-R yang bisa digunakan untuk menebus right atau hak Anda, membeli saham KSIR di harga 200 walaupun harga pasar terbarunya ada di 470.

Jika Anda tidak ingin tebus, Anda bisa jual KSIR-R milik Anda di pasar. Tentu saja ada nilainya, yang mana harganya adalah selisih antara harga pasar KSIR dengan harga exercise. Jadi, harga jual KSIR-R adalah 470 – 200 = 270.

 

Yups, setelah Anda tahu definisi, tujuan, meknisme, perhitungan harga teoritis, efek right issue bagi investor maka hal yang tidak kalah pentingnya perlu untuk kita ketahui sebagai investor saham Indonesia adalah :

apakah alasan lain sebuah perusahaan go publik melakukan right issue, selain untuk tujuan seperti ekspansi ?”.

  1. Untuk meningkatkan modal perusahaan, misal guna akuisisi perusahaan lain atau pengembangan lini bisnis dan semacamnya,
  2. Untuk memenuhi kewajiban atau hutang perusahaan, sebaiknya lebih hati – hati jika perusahaan melakukan right issue yang sebagian besar hanya untuk memenuhi pembayaran hutang saja,
  3. Untuk memberikan bonus berupa opsi saham kepada karyawan atau jajaran manajemen perusahaan,
  4. Untuk menambah saham di market atau publik bagi perusahaan yang masih harus memenuhi ketentuan saham free float [minimum] 7,5%,
  5. Untuk menambah porsi kepemilikan pada anak usaha, seperti yang dilakukan oleh Merdeka Corpper Gold Tbk. atau MDKA pada tahun 2018 lalu,
  6. Untuk meningkatkan jumlah saham di market dan jumlah saham beredar perusahaan agar lebih liquid,
  7. Untuk backdoor listing atau bahasa sederhananya go publik melalui “jalur” right issue,
  8. Untuk mendorong minat para investor berinvestasi pada saham emiten yang melaksanakan right issue, terkadang selisih harga eksekusi dan harga saham di pasar cukup signifikan.

Kesimpulannya, hal utama yang perlu diperhatikan investor terhadap aksi korporasi berupa Right Issue atau HMETD (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu) atau penerbitan saham baru oleh perusahaan adalah tujuan dari dilaksanakannya right issue tersebut. Selain memperhatikan tujuan dari right issue perusahaan maka investor perlu memperhatikan bagaimana kinerja perusahaan tersebut, karena jika hanya mempertimbangkan tujuan dari right issue perusahaan namun kinerja yang tercermin pada fundamental perusahaan buruk maka keputusan untuk ikut serta atau penebusan right issue bisa dipertimbangkan lagi. Selebihnya, investor juga bisa mempertimbangkan soal Standby Buyer, right issue dilaksanakan dengan atau tanpa HMETD dan efek dilusi [hanya jika Anda berminat atau berniat sebagai pemegang saham pengendali].

Jadi, bagaimana ?, apakah Anda berminat untuk ikut serta dalam aksi korporasi right issue pada perusahaan yang sahamnya telah Anda miliki ?. Tentukan pilihan mu 🙂

 

KUMPULAN HASIL REVIEW (terbatas) SAHAM – SAHAM INDONESIA BERDASARKAN KAIDAH VALUE INVESTING Klik —> (disini)

Jika Anda cocok dengan Value Investing ala andrianoktianto.com dan ingin mendapatkan hasil analisis andrianoktianto.com lebih lengkap untuk saham – saham berpotensi, silahkan JOIN dengan andrianoktianto.com. Klik REGISTRASI —> (disini)

Anda akan mendapatkan berbagai fasilitas berikut, Klik —> (disini)

Apakah Anda cocok dengan Value Investing andrianoktianto.com ?. Klik —> (disini)

Apa itu Value Investing andrianoktianto.com ?. Klik —> (disini)

Profil dari Penulis ?. Klik —> (disini)

Saham Value Investing Indonesia – andrianoktianto.com

ASTRA INTERNATIONAL (Saham ASII) – th. 2020

ASII sebagai perusahaan dengan beragam bisnis yang “menyentuh” hampir semua aspek kehidupan manusia melalui produk ...

WASKITA KARYA (Saham WSKT) – th. 2020

WSKT termasuk saham sektor konstruksi dimana perolehan proyeknya baik dari proyek pemerintah maupun proyek swasta ...

ASTRA OTOPARTS (saham AUTO) – th. 2020

Ekspansi produk, penambahan Outlet Shop & Drive guna perbesar pangsa pasar, efisiensi biaya utama hingga ...

SOECHI LINES (saham SOCI) – th. 2020

Saham SOCI, IPO sejak akhir tahun 2014 dan mulai akan “melejit” di tahun 2020/2021 ? ...

E-book Review atas Laporan Keuangan Kuartal III – Tahun 2019

Ebook Review atas Laporan Keuangan Kuartal III – Tahun 2019   Dear investor dari berbagai ...

Global Mediacom : Online Digital Media – Induk Perusahaan MNCN :: Saham BMTR Menarik (2019) ?

Saham BMTR Menarik ? : Mulai dari dua lini bisnis inti yang memberikan kontribusi pendapatan ...